MEMAKAI CELANA PANJANG, HARAMKAH?

Hampir semua dari Kabupaten/ Kota perlu melakukan kajian ulang peraturan menganai Pakaian Dinas Harian (PDH). Hal ini terkait dengan ditetapkannya peraturan bahwa guru perempuan tidak diperbolehkan memakai celana panjang ketika mengajar. Sudah berulang kali penulis menemukan surat pembaca dalam berbagai media massa yang intinya usulan mengenai direvisinya peraturan ini, namun nyatanya juga tetap tidak ada perubahan mengenai hal tersebut.

Jika dipandang sekilas hal ini akan sangat tidak berarti, khususnya bagi mereka yang tidak peka jender. Namun ketika hal ini diusung dalam wacana kesetaraan jender, maka akan sangat nampak bahwa bias jender masih juga mengakar di dunia pendidikan kita. Jangankan celana panjang yang hanya dituangkan dalam Peraturan Daerah, jilbab yang nyata-nyata tertulis dalam kitab suci saja menjadi layak untuk diperbincangkan dan ditinjau kembali mengenai keabsahannya ketika hal ini dibawa ke wilayah diskursus jender.

Menurut Prof. Dr. Komarudin Hidayat dalam pengantar buku Argumen Kesetaraan Jender, dia mengatakan bahwa memakai rok dan jarik adalah bentukan dari budaya patriarkhi. Dengan memakai pakaian tersebut maka kebebasan perempuan sedikit banyak akan terkurangi. Misalkan saja ketika  memakai jarik tentunya seorang perempuan tidak akan jalan mendahului laki-laki. Selain itu dia juga tidak akan mungkin dapat melakukan kegiatan di luar rumah dengan bebas dan lincah. Hal ini akan menguntungkan laki-laki yang masih melanggengkan budaya patriarkhi, di mana mereka secara umum tidak ingin tersaingi oleh perempuan dan menginginkan agar perempuan tetap eksis di lingkungan sebelumnya, yaitu sumur, dapur dan kasur. Selain itu, menurutnya, masyarakat patriarkhi menerapkan pakaian tersebut pada masa lalu adalah untuk mempermudah kaum laki-laki menjadikan perempuan sebagai obyek seksual.

Pertanyaan selanjutnya adalah, masihkah hal ini pantas untuk dipertahankan sampai sekarang? Ironisnya, hal ini juga masih diberlakukan di kalangan PNS (guru) yang seharusnya menjadi model transformasi kemajuan dalam tatanan masyarakat, dalam hal ini kesadaran jender. Jika demikian, bagaimana mungkin ruh dari kesetaraan jender akan menjiwai dunia pendidikan sebagaimana yang beberapa waktu terakhir ini digembor-gemborkan oleh pemerintah dengan jargon Pendidikan Berbasis Jender?

Alasan Nilai Kesopanan

            Akan sangat menggelikan jika alasan nilai kesopanan dikemukakan untuk memberikan pembelaan terhadap peraturan mengenai larangan memakai celana panjang tersebut. Dari sini akan muncul pertanyaan tandingan, apakah guru perempuan yang memakai bawahan rok sebatas lutut dengan belahan yang cukup panjang dinilai lebih sopan jika dibandingkan dengan mereka yang memakai celana panjang?

Dengan melihat lamanya budaya patriarkhi mengakar dalam masyarakat kita, perlu dicurigai pula mengenai standar nilai kesopanan yang selama ini diakui oleh masyarakat. Bisa jadi yang dianggap sopan oleh masyarakat adalah sesuatu yang telah dilegalkan oleh masyarakat patriarkhi itu sendiri, bukan sopan yang sejatinya sopan jika dilihat dari perspektif  manapun. Sebagai contoh, seorang guru perempuan memakai rok sebatas lutut dianggap lebih sopan, padahal dari sisi agama (Islam) dia dianggap tidak memenuhi kriteria menutup aurat. Kalau tidak boleh menyebut rok pendek, rok panjang sekalipun tidak menjamin tertutupnya aurat. Misalkan saja, ketika naik tangga atau naik angkot, tentu dengan memakai rok betis akan kelihatan. Dengan demikian, apakah rok menjamin kesopanan? Sementara guru perempuan yang memakai celana panjang dari perspektif agama dia telah menutup aurat, namun bagi sebagian masyarakat dianggap tidak memenuhi kriteria kesopanan.

Mengenai embel-embel “anggun” juga perlu disadari bahwa kata-kata tersebut adalah bentukan dari budaya patriarkhi. Jika direnungkan maka kata-kata tersebut menimbulkan kesan negatif dari sisi kesetaraan jender dan nantinya akan memunculkan stereotip bagi perempuan, yaitu perempuan selamanya tetaplah sebagai objek kehidupan yang hanya dinilai dari sisi keindahannya saja. Masihkah akan dianggap bahwa memakai rok dipandang lebih anggun dari celana panjang? Penulis mengakui bahwa sampai saat ini masih banyak perempuan yang memiliki pandangan seperti itu. Namun kiranya perlu dipikiran juga, keanggunan tidak berarti harus mengorbankan keamanan dan kenyamanan kerja.

Pakaian Bagi Perempuan Aktif

            Seiring dengan perkembangan kebutuhan masyarakat, kaum perempuan tidak lagi menjadi manusia rumahan yang kerjanya seputar dapur, sumur dan kasur. Bukan sekedar kehendak pribadi, namun telah menjadi tuntutan hidup bahwa mau tidak mau mereka harus ikut mencari nafkah di luar rumah. Hal ini didorong oleh semakin majunya teknologi, sehingga untuk melakukan pekerjaan yang tadinya hanya bisa dilakukan oleh laki-laki namun sekarang perempuan pun bisa melakukannya.

Saat ini seorang perempuan akan dengan mudah melakukan mobilitas, karena sebagaimana laki-laki, mereka juga dapat mengendarai kendaraan bermotor, sehingga jarak dan waktu tidak akan menjadi kendala. Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, apakah dengan mengendarai sepeda motor itu seorang perempuan harus mempertahankan roknya? Apakah dengan memakai rok keselamatan di jalan dapat terjamin?

Mungkin dari beberapa orang yang ingin mempertahankan peraturan akan bilang, “kalau sampai di sekolah nanti bisa ganti rok”. Ada satu hal yang perlu dicermati, dengan berkiprahnya seorang perempuan di luar rumah sebenarnya telah melahirkan peran ganda baginya, sehingga pekerjaannya kian bertambah banyak. Dengan demikian mau tidak mau seorang perempuan aktif harus pandai-pandai mengatur waktu. Lalu di sela-sela kesibukannya ini, apakah harus ditambah pula dengan kesibukan ganti rok ketika sampai di sekolah?

Dari sisi filosofis pada hakekatnya peraturan digunakan untuk mengatur manusia agar kehidupan berjalan dengan teratur. Sebagai pembuat peraturan hendaknya harus bertindak sebijak mungkin dan ditinjau dari berbagai sudut pandang, sehingga ketika peraturan tersebut diterapkan tidak akan ada pihak yang nggrundel, atau bahkan merasa teraniaya. Wallahu a’lam.

By Umi Ha Es Posted in OPINI