BELAJAR PADA AIR

Tanggal 27 Oktober 2008 pagi, salah satu stasiun televisi nasional memberitakan mengenai seorang siswa yang mencoba bunuh diri sebab dikatakan “siswa bodoh” oleh gurunya. Berita ini kedengaran ironis sekali ketika dikaitkan dengan Hari Besar Nasional yang jatuh sehari setelah tanggal di atas, 28 Oktober, tanggal yang diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai hari Sumpah Pemuda. Hari di mana banyak tokoh berkomentar, memberikan semangat, memberikan pesan moral, menyanjung-nyanjung, terlebih lagi menuntut kepada para pemuda untuk menjadi generasi penerus yang baik. Jadi, alangkah disayangkan jika berita yang kontras dengan peringatan Sumpah Pemuda itu harus terdengar. Lebih disayangkan lagi jika pemicu tindakan nekat itu adalah guru yang notabene adalah pencetak generasi muda agar dapat menjadi generasi penerus yang baik.

Air Dapat Menerima Pesan

Jika kita lihat dari sisi lain, apakah siswa dalam hal ini juga perlu disalahkan? Kata-kata “bodoh” mengingatkan penulis pada buku The True Power of Water yang ditulis oleh Masaru Emoto. Dalam risetnya, ilmuwan Jepang tersebut berhasil menemukan bukti bahwa air dapat menangkap pesan dari sekelilingnya. Dia mengemukakan bahwa air yang diberi label “kamu bodoh” dan air yang diberi label “terima kasih”, ketika kedua air tersebut dibekukan pada suhu -25°C dan diambil gambarnya dengan kamera berkecepatan tinggi, maka akan memperlihatkan hasil yang sama sekali berbeda. Air yang berlabel “kamu bodoh” tidak dapat membentuk kristal, sementara air yang bertuliskan “terima kasih” ternyata dapat membentuk sebuah kristal yang sangat indah.

Memang kedengarannya aneh, bahkan tidak ilmiah. Bagaimana mungkin air dapat membaca tulisan? Namun riset tersebut dilakukan secara ilmiah sehingga hasilnya pun dapat dipertanggungjawabkan nilai-nilai keilmiahannya. Setiap benda yang ada di dunia ini, menurut Emoto, memiliki gelombang atau yang diistilahkannya dengan hado. Energi dari hado ini berbeda-beda, ada yang positif dan ada pula yang negatif. Energi tersebut mudah dipindahkan dari satu benda ke benda lain dalam waktu singkat. Misalnya, kata “kamu bodoh” memiliki hado negatif yang diserap oleh air yang kemudian dimunculkan kembali dalam bentuk kristal yang tidak indah (prematur). Sebaliknya, kata”terima kasih” memiliki hado positif yang ketika diserap air dapat memunculkan gambar kristal yang indah.

Di kalangan umat Islam tradisional masih ada kepercayaan terhadap air rajah yang diperoleh dari kyai sebagai obat. Ternyata dari hasil penelitian Emoto tersebut kita tahu bahwa keyakinan itu bukan sekedar tahayul, apalagi musyrik. Dari doa yang dibaca dapat menciptakan hado positif dan direspon oleh air, kemudian hado tersebut akan disalurkan kepada orang yang meminumnya sehingga akan memunculkan hado positif pula dalam diri peminumnya.

Hado dan Kegiatan Pembelajaran

Air yang menurut kita selama ini adalah benda yang tak bernyawa, ternyata dapat berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Ia dapat merespon pesan-pesan yang diberikan. Sementara itu, zat penyusun tubuh manusia 70% adalah air. Terlebih lagi manusia yang dalam penciptaannya dianugerahi cipta, rasa dan karsa oleh Tuhan, tentunya dia akan lebih peka terhadap apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya. Maka sudah sewajarnya jika manusia akan memberi respon yang tidak baik jika dikatakan “bodoh”.

Dikatakan oleh Emoto, bahwa semua benda di dunia ini memiliki hado, bukan hanya air. Dengan demikian, manusia pun juga memiliki hado. Pernahkah kita menyadari adanya suasana yang tidak menyenangkan ketika kita berada di dalam kelas? Bisa jadi penyebab suasana yang tidak menyenangkan tersebut berasal dari hado negatif dalam diri kita yang kemudian mempengaruhi hado peserta didik. Misalkan saja, dari rumah seorang guru telah berbekal rasa benci, gelisah, malas, atau bahkan marah dalam hatinya. Perasaan-perasaan tersebut telah menciptakan hado negatif yang akan direspon oleh peserta didik dan terefleksi kembali, misalkan dalam bentuk suasana kelas gaduh.

Sebaliknya, dengan adanya teori bahwa hado dapat dipindahkan ke lain benda dengan cepat, kita dapat memanfaatkannya untuk menguasai kelas. Dengan menghindarkan kata-kata kotor yang dapat memunculkan hado negatif, kita dapat mengendalikan suasana kelas. Bisa juga kita mengajak anak-anak membaca doa untuk menetralisir energi hado negatif yang ada di kelas dengan energi hado positif yang dihasilkan dari doa tersebut.

Sebagai pendidik kita harus mau mengambil pelajaran dari air. Selama ini kita masih saja menganggap peserta didik sebagai objek didik, sehingga kita seringkali memaksakan kehendak untuk membentuk mereka sesuai dengan keinginan kita. Dengan keinginan itu kadang kita lupa bahwa mereka adalah manusia yang tidak luput dari kekurangan. Akibatnya ketika terbawa emosi guru seringkali mengeluarkan kata-kata tidak baik yang memojokan peserta didik. Kalau air sebagai benda mati saja dapat merespon kata maupun tulisan yang diberikan, tentunya peserta didik yang memiliki perasaan akan dengan cepat meresponnya. Jika itu terjadi maka jangan harap dia akan merefleksikan hado positif dalam pembelajaran yang kita pimpin.

Sebuah penelitian yang menarik juga dilakukan oleh warga Jepang mengenai benda mati yang dapat menerima respon terhadap pesan yang diberikan padanya. Tiga botol nasi disimpan selama beberapa hari. Botol-botol tersebut  setiap harinya diberikan  bisikan-bisikan yang berbeda, salah satunya dibisiki kata “kamu bodoh”, satunya lagi “terima kasih”, dan botol yang lain tidak dibisiki kata apapun. Ternyata dalam beberapa hari ketiga nasi dalam botol tersebut menunjukkan wujud yang berbeda. Nasi yang dibisiki ucapan “terima kasih” dapat membentuk fermentasi dan memunculkan bau alkohol, nasi yang dibisiki kata “kamu bodoh” menjadi basi dan berwarna hitam, sedangkan nasi yang tidak dibisiki kata apapun ternyata menjadi lebih cepat basi dari pada nasi yang dibisiki kata “kamu bodoh”.

Dari riset di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa dengan memberikan hinaan pada anak sebenarnya kita telah merusak mereka. Hal ini bukan berarti bahwa dengan membiarkannya kita telah berbuat baik pada mereka, justru sikap kita yang acuh tak acuh sesungguhnya lebih merusak mereka dari pada menghinanya.

Jika selama ini kita belajar ilmu paedagogi dari seorang dosen maupun membaca buku, maka tak ada salahnya kalau sekarang kita mencoba  belajar paedagogi pada air. Wallahu a’lam.